Naiknya Harga Obat Bebani Pasien dan RS

Daftar Harga Obat – Kenaikan harga obat generik yang diputuskan pemerintah lewat Kementerian Kesehatan dinilai memberatkan. Naiknya harga obat generik bukan sekedar membebani orang-orang namun juga pihak rumah sakit, terlebih rumah sakit punya pemerintah.

Seperti diberitakan, terhitung mulai 23 Februari 2012, Kementerian Kesehatan telah mengambil keputusan harga eceran teratas (HET) obat generik. Dari 498 obat, 170 obat salah satunya naik serta 327 obat jadi turun. Kenaikan harga dikerjakan karna terdapat banyak obat yang telah 2-3 th. tidak naik. Sekarang ini, harga obat itu sangat terpaksa dinaikkan, sesudah dievaluasi.

Pihak rumah sakit pemerintah mengakui terbebani dengan ketentuan itu kerena mesti memikul cost yang lebih tinggi dalam penyediaan obat. Seperti di ketahui, nyaris beberapa besar rumah sakit punya pemerintah sediakan semakin banyak obat generik daripada obat paten serta bermerek.

” Semestinya diberitahu jauh-jauh hari umpamanya 3 (tiga) bulan terlebih dulu. Rumah sakit juga akan terbebani karna mesti membayar lebih mahal, ” ucap Direktur Medik serta Keperawatan RSUP Fatmawati dr Lia Pratakusuma, waktu dihubungi Kompas. com, Kamis (22/3/2012).

Lina mengungkap, dari 100 % pasien yang datang berobat ke Tempat tinggal Sakit Fatmawati, cuma 20 % yang membayar obat dengan kontan (pasien membayar sendiri), sesaat 80 % dijamin oleh pihak asuransi (Jamkesmas, Jamkesda, Askes).

Mengingat rumah sakit belum juga membahas perjanjian harga baru obat dengan pihak penjamin, mengakibatkan rumah sakit mesti memikul kekurangan harga. Hal itu lanjut Lia akan menyusahkan rumah sakit waktu klaim.

” Bila ingin ada kenaikan harga mesti ada spare saat. Hingga rumah sakit dapat mempersiapkan tarif baru dengan pihak penjamin, ” katanya.

Akses obat makin jauh

Pengurus Harian Yayasan Instansi Customer Indonesia (YLKI) Tulus Kekal menilainya ketentuan pemerintah menaikan harga obat generik juga akan makin buat akses orang-orang dalam memperoleh obat yang murah makin jauh.

” Kenaikan harga obat generik juga makin kurangi kepopuleran obat generik di mata pasien serta dokter karna harga nya yang makin mahal, ” tuturnya.

Tulus mengungkap, ketentuan menaikan harga obat generik begitu bertolak belakang dengan kampanye pemerintah yang sampai kini mendorong masyakarat untuk ingin memakai obat generik. Argumen menaikan harga obat berkaitan gagasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) serta tarif basic listrik, dinilai Tulus memanglah cukup rasional namun mometnya tidak cocok.

Ia mengungkap, akses orang-orang Indonesia pada obat masih tetap begitu rendah daripada negara-negara Asia yang lain. Hal semacam ini karena sebab harga obat di Indonesia masih tetap termasuk begitu mahal daripada negara-negara beda didunia. ” Bila dibanding negara beda, harga obat di Indonesia termasuk juga yang teratas, ” cetusnya.

Selanjutnya ia menyebutkan, ” Ini jadi kebijakan yg tidak berpihak pada rakyat serta buat orang-orang jadi sakit karna susah memperoleh akses pada obat. ” Baca Juga : Obat Tradisional

Add Comment